Kamis, 12 Januari 2012

mengenal allah lebih dekat


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menyebutkan nama Allah. Disetiap berdo’a, pada saat melupakan sesuatu atau mengingat sesuatu dll seringkali kita mengucapkan nama Allah. Namun, apa kita tau apa itu Allah?? Dari  mana mula manusia mengenal Allah?? Lalu, apa yang terkandung dalam kata Allah? Mungkin banyak diantara kita yang tidak tau asal muasal nama Allah dan makna yang terkandung dalam kata tersebut.

Ya, Allah adalah kata yang sering kita sebut dalam setiap gerak kita, baik secara sadar maupun tidak sadar, baik dalam keadaan sedih maupun dalam keadaan bahagia.  Kata Allah seakan sudah melekat dalam hati siapapun. Saking seringnya kita menyebut nama Allah, kadang kita kurang memahami makna yang terkandung didalamnya.

Jika kita telusuri, kata Allah terulang sebanyak 2.698kali dalam Al-Qur’an. Menurut Syekh Tosun Bayrak dalam buku Asmaul Husna, makna dan kasiat Allah adalah al-ism al-a’zham, nama teragung, yang mencakup semua sifat Allah yg indah dan menjadi tanda essensi (tujuan=> satu-satunya tujuan hidup kita didunia ini) dan sebab bagi segala eksestensi (keberadaan). Allah, dalam segala keberadaan sama sekali tidak serupa dengan makhlukNya.

Allah hanyalah nama yang diperuntukkan bagiNya. Tidak ada sesuatupun selainNya yg memiliki nama ini dan menyamaiNya.

Lalu darimanakah kita mengenal nama Allah??
Allah sendirilah yang menamai dirinya dengan sebutan Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam firmannya, “Sesungguhnya Aku adalah ALLAH, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku” (QS. Thaha 20: 14). Dari ayat ini lah asal mulanya manusia mengenal nama Allah.

Karena istimewanya kata ini, para ulama dan pakar bahasa berbeda pendapat ketika menguraikan kata Allah. Sebagian ulama mengatakan bahwa kata Allah tidak terambil dari akar kata apapun. Sebahagian ulama mengatakan bahwa kata Allah berasal dari kata Ilah, yang dibumbuhi huruf alif dan lam, dan demikian Allah merupakan nama khusus karena itu tidak dikenal bentuk jamaknya.

Sementara makna kata Ilah, ada yang mengartikan “yang disembah” dan ada juga yang mengartikan “Pencipta, Pengatur Alam Semesta Raya”. Tapi, jika kita perhatikan semua kata Ilah dalam Al-Qur’an. Kata Ilah lebih dekat untuk dipahami sebagai Penguasa, pengatur alam raya.

Meski para ulama dan pakar bahasa berbeda pendapat soal asal akar kata ini, tapi mereka sepakat bahwa kata Allah mempunyai kekhususan dibandingkan dengan asma-asma lainnya. Dari segi lafal misalnya, jika kita baca kata kata Allah dengan menghapus huruf awalnya, maka akan berbunyi  Lillah”  yang berarti milik atau bagi Allah. Dan jika kita menghapus huruf awal dari kata “Lillah”  maka akan terbaca Lahu”  yang berarti bagi-Nya. Dan jika dihapus huruf awal dari kata “Lahu”   maka akan terbaca ucapan “Hu” yang berarti DIA, yang menunjuk pada Allah.

Dari segi makna kata, kata Allah mencakup sifat-sifat yang menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Selain itu Allah juga mempunyai 99 asma Allah merupakan nama sifatNya yang mencerminkan kasih sayangNya terhadap makhlukNya, keagunganNya, kekuasaanNya, kemampuannYa dan keesaanNya.

Dia-lah yang wajib disembah, disanjung, dipuja dan dipuji. Dari Dia-lah bersumber  segala yg ada. PadaNya lah kekuasaan tertinggi  yang mutlak yang diakui oleh akal dan pikiran manusia yang sehat. Dia Hidup, Berdiri sendiri tanpa ketergantungan pada yang lain. Dialah Penguasa Alam semesta langit dan bumi dan semua isinya tak luput dari sepengetahuanNya. Tak ada yang sulit bagiNya. Itulah salah satu bukti KeesaanNya.

Ya Allah...
Engkau adalah zat yang mulia yang disembah dan disanjung. Engkau adalah Maha Pencipta dan Maha dalam segala-galanya. Semua langit dan bumi dalam genggamanMu. Tidak ada yang sulit bagiMu melaksanakan apa saja yang Engkau kehendaki.

sejarah ciamis

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah (kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata "galuh", berasal dari kata "sakaloh" berarti "dari sungai asalnya", dan dalam lidah Banyumas menjadi "segaluh". Dalam Bahasa Sansekerta, kata "galu" menunjukkan sejenis permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum menikah.

Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal-usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur mitos, dongeng atau legenda disamping unsur yang bersifat historis. Naskah-naskah ini antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut, diantaranya Sanghyang Siksakanda ‘Ng Karesian, ditulis tahun 1518, ketika Kerajaan Sunda masih ada dan Carita Parahyangan, ditulis tahun 1580.

Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama tidak terlepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan sebagai berikut: Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?); Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan; Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan; Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan; Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman; Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan; Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo; Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan; Galuh Pakuan beribukota di Kawali; Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan; Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka; Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung; Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis (sejak tahun 1812).

Jumat, 06 Januari 2012

puisi 'KESALAHAN KU ''


Aku terbawa arus yang sangat jauh
Dimana aku tak tahu lagi harus kemana
Tuk menampakkan ke daratan
Cinta ku ini membuatku bimbang
Hatiku selalu sakit
Saat aku harus kehilangan semua nya
Entah bagaimana lagi
Di saat aku merasa dapatkan kebahagian ku
Ternyata itu salah
Aku ambil cinta yang belum tentu membuat aku bahagia
Dan ini lah awal penderitaan ku

BY :, , , , , , , , ,

tautan hati

Tautan hati


Tuhanku,
Aku ingin menjadi lebih menghibur daripada dihibur
Aku ingin lebih memahami daripada difahami
Aku mahu lebih mencintai daripada dicintai
 kerana
dengan memberi aku menerima
dengan memaafkan aku dimaafkan
dengan cinta aku bangkit kembali
dan dengan cinta aku hidup abadi

kerajaan islam di indonesia

a. Kerajaan Perlak
Perlak adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia. Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai. Sejak berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan Samudrar Pasai, terdapat 19 orang raja yang memerintah. Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225 – 249 H / 840 – 964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak. Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.
b. Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik Al-saleh dan sekaligus sebagai raja pertama pada abad ke-13. Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Semawe sekarang (pantai timur Aceh).
Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti memerintah di Samudra Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah Samudra Pasai adalah seperti berikut.
(1) Sultan Malik Al-saleh berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha mengembangkan kerajaannya antara lain melalui perdagangan dan memperkuat angkatan perang. Samudra Pasai berkembang menjadi negara maritim yang kuat di Selat Malaka.
(2) Sultan Muhammad (Sultan Malik al Tahir I) yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai.
(3) Sultan Malik al Tahir II (1326 – 1348 M).
c. Kerajaan Aceh
Kerajaan Islam berikutnya di Sumatra ialah Kerajaan Aceh. Kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-1528), menjadi penting karena mundurnya Kerajaan Samudera Pasai dan berkembangnya Kerajaan Malaka.
Para pedagang kemudian lebih sering datang ke Aceh.
dan masih ad beberapa kerajan islam lain nya ,,,,